Hari ini, perusahaan-perusahaan di Indonesia memiliki sumber daya yang jauh lebih besar dibanding dua dekade lalu. Dana lebih banyak, teknologi lebih canggih, talenta-talenta terbaik lulusan universitas kelas dunia semakin mudah ditemukan. Tapi pertanyaannya tetap menggantung: mengapa inovasi besar masih jarang lahir dari negeri ini?
Jawabannya sederhana dan pahit sekaligus. Kreativitas jarang mati karena kekurangan ide. Kreativitas mati karena orang tidak lagi merasa aman untuk bersuara.
Seorang direktur eksekutif dari kawasan Asia Pasifik pernah mengungkapkan satu kalimat yang sulit dilupakan: musuh terbesar inovasi di Asia bukan kurangnya kreativitas, tapi politik. Office politics. Budaya takut salah. Budaya asal Bapak senang. Budaya di mana orang yang paling berani justru menjadi yang paling rentan diserang.
Akibatnya, yang bertahan bukan orang terbaik — melainkan orang yang paling pandai membaca situasi. Dan kemampuan bertahan tidak selalu melahirkan inovasi.
Fenomena ini membentuk lingkaran setan yang pelan-pelan menggerogoti daya saing sebuah organisasi. Ketika keberanian dihukum, orang belajar untuk tidak berani. Ketika kejujuran dibalas dengan marginalisasi, orang belajar untuk tidak jujur. Perlahan, organisasi kehilangan sinyal-sinyal penting yang seharusnya menjadi kompas navigasinya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.