PUNGGAWANEWS – Menjelang Idul Adha 2026 yang diperkirakan jatuh pada 27 Mei mendatang, jutaan keluarga di seluruh Indonesia kembali menyiapkan dana jutaan rupiah untuk membeli hewan kurban. Namun berbeda dari generasi sebelumnya yang memilih langsung di pasar ternak, kini transaksi itu cukup diselesaikan lewat sebuah klik—tanpa pernah menyentuh, memeriksa, bahkan melihat langsung hewan yang akan disembelih atas nama ibadah.

Di sinilah persoalan sesungguhnya bermula.

Marketplace, media sosial, live streaming, hingga sistem titip kurban digital telah mengubah cara masyarakat bertransaksi secara fundamental. Foto WhatsApp yang meyakinkan, testimoni berjejer rapi, dan klaim “garansi syar’i” menjadi satu-satunya dasar keputusan konsumen sebelum mentransfer uang dalam jumlah besar. Kepercayaan—bukan pengetahuan—menjadi mata uang utama dalam ekosistem kurban modern.

Dan kepercayaan itu, sayangnya, terlalu sering dikhianati.

Praktik manipulasi dalam perdagangan hewan kurban bukan lagi sekadar rumor. Dalam berbagai kasus yang mendapat sorotan publik, hewan yang ditampilkan saat promosi tidak selalu sama dengan yang dikirim atau disembelih. Ada pula laporan hewan yang tidak memenuhi syarat kesehatan—terlalu kurus, cacat, bahkan terindikasi sakit—tetapi tetap dijual dengan harga premium berlabel “hewan pilihan” atau “super sehat.”