MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Isu “Indonesia gelap” kembali mencuat di ruang publik, dipicu kekhawatiran atas pelemahan rupiah dan tekanan ekonomi global. Namun, benarkah kondisi Indonesia saat ini berada di titik krisis? Atau justru sedang berada di fase transisi yang belum sepenuhnya buruk?
Narasi pesimistis berkembang cepat, terutama di media sosial, seiring munculnya prediksi nilai tukar rupiah yang bisa menembus Rp21.000 hingga Rp25.000 per dolar AS. Prediksi ini memicu kecemasan, meski tidak seluruhnya berbasis data yang solid. Di sisi lain, masyarakat mempertanyakan langkah konkret yang harus diambil untuk menghadapi ketidakpastian tersebut.
Jika ditarik ke data makroekonomi, gambaran Indonesia tidak sepenuhnya suram. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 5,39 persen, menunjukkan ekonomi masih bergerak positif. Neraca perdagangan bahkan mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak 2020 hingga Februari 2026. Pada Februari 2026, ekspor mencapai US$22,17 miliar, melampaui impor sebesar US$20,89 miliar.
Fakta ini menunjukkan bahwa secara fundamental, ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan. Surplus perdagangan menjadi indikator kuat bahwa aktivitas ekspor tetap berjalan stabil di tengah tekanan global. Namun, indikator lain memberi sinyal kehati-hatian.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.