KEBUMEN, PUNGGAWANEWS – Satu kolam, satu hektare, empat puluh ton udang. Angka itu yang membuat Presiden Prabowo Subianto tersenyum lebar saat menginjakkan kaki di tambak Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu, 23 Mei 2026. Bukan sekadar panen biasa — ini adalah deklarasi bahwa Indonesia serius mengincar posisi produsen udang nomor satu di dunia.

Prabowo hadir langsung untuk menyaksikan panen raya udang ke-8 di kawasan tambak seluas 100 hektare tersebut. Ia meninjau seluruh rantai proses, mulai dari pengangkatan udang vannamei dari kolam produksi hingga kegiatan sortir sebelum hasil panen siap dipasarkan.

Kawasan BUBK Kebumen bukan tambak sembarangan. Sistem pengelolaannya dirancang menggunakan konsep best practice budi daya udang modern — mencakup saluran air masuk, kolam tandon, pemisahan jalur inlet dan outlet, instalasi pengolahan air limbah, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya. Ini adalah contoh nyata bagaimana tambak tradisional bisa bertransformasi menjadi operasi akuakultur kelas dunia.

Di hadapan para pekerja dan tamu undangan, Presiden Prabowo tidak menyembunyikan kekagumannya. Ia menyebut produktivitas 40 ton per hektare sebagai capaian yang luar biasa, terlebih dengan harga jual udang yang mencapai Rp70.000 per kilogram. Dengan hitungan sederhana, satu ton udang bernilai Rp70 juta — angka yang langsung menggambarkan betapa besarnya potensi ekonomi yang tersimpan di kawasan tambak ini.

BUBK Kebumen saat ini memiliki 206 petak kolam produksi. Dengan kapasitas tersebut, nilai produksi per siklus mencapai sekitar Rp67,2 miliar, dan bila dua siklus dijalankan dalam setahun, angkanya berpotensi menembus Rp134,4 miliar. Tidak hanya soal nilai produksi — kawasan ini juga telah menyerap 650 tenaga kerja lokal, menjadikannya motor penggerak ekonomi masyarakat setempat.