Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, OPINI – Jika Anda berkunjung ke berbagai kampus atau sekolah saat ini, pemandangan kebanggaan yang sering ditonjolkan adalah spanduk digitalisasi: “Semua Layanan Kini Berbasis Aplikasi”. Mulai dari pengisian Kartu Rencana Studi (KRS), pembayaran uang kuliah, hingga pengajuan cuti, semuanya telah diotomatisasi.

Di atas kertas, indikator kinerja administrasi terlihat sempurna. Waktu tunggu yang dulunya berjam-jam kini dipangkas menjadi hitungan detik. Namun, ada paradoks yang menganga di balik gemerlap layar aplikasi tersebut: indeks kepuasan pelayanan justru kerap diwarnai keluhan. Mengapa? Karena ketika mahasiswa atau orang tua menghadapi masalah yang sedikit berada di luar “menu” aplikasi, mereka sering kali membentur tembok birokrasi digital yang dingin.

“Silakan cek saja di sistem, Pak. Kalau di sistem tidak bisa, berarti memang tidak bisa,” adalah kalimat sakti yang kini sering terdengar dari meja Tata Usaha.

Inilah krisis baru dalam dunia tata kelola administrasi kita. Kita berhasil mempercepat mesin untuk bekerja, tetapi kita perlahan kehilangan senyuman dan empati dalam melayani. Kita terjebak pada fenomena high tech, low touch teknologi tinggi, namun minim sentuhan manusia.



Follow Widget