KUTAI TIMUR, PUNGGAWANEWS – Di Kutai Timur, ada warga yang menyimpan ikan dengan es batu bukan karena tidak mampu membeli kulkas, melainkan karena listrik belum pernah benar-benar tiba. Ini bukan keluhan kecil yang berdiri sendiri. Ini potret dari sebuah kabupaten yang ekonominya tumbuh hampir sepuluh persen, tetapi sebagian warganya masih mengandalkan aki untuk menerangi malam.
Data Pemerintah Kabupaten Kutai Timur per November 2025 mencatat masih ada 15 desa yang belum menikmati listrik PLN. Sebagian di antaranya mulai diarahkan ke solusi alternatif seperti PLTS komunal dan Solar Home System, bukan karena pilihan, tetapi karena tantangan geografis yang membuat pembangunan jaringan konvensional menjadi terlalu mahal. Artinya, pemerintah sendiri mengakui bahwa masalah ini nyata, bukan sekadar persepsi.
Secara nasional, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM mencatat masih ada 5.821 desa di Indonesia yang belum teraliri listrik PLN hingga akhir 2024. Dari jumlah itu, 855 desa berada di Kalimantan. Kutai Timur bukan pengecualian dari tren besar ini. Ia adalah bagian dari pekerjaan rumah yang belum selesai bernama pemerataan energi.
Di tengah kondisi itulah muncul kabar yang sulit diabaikan: anggaran laundry di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mencapai Rp 450 juta. Pemerintah segera memberikan klarifikasi bahwa anggaran tersebut tidak semata untuk mencuci pakaian kepala daerah. Ada karpet, gorden, bed cover, perlengkapan jamuan, rumah jabatan, hingga berbagai fasilitas pemerintah yang masuk dalam pos anggaran itu.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.