Kendati demikian, posisi rupiah yang sudah menembus Rp 18.100 per dolar AS jelas bukan perkara yang bisa dianggap enteng. Apalagi tekanan ini berlangsung di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan tingginya harga minyak yang berpotensi menambah beban ekonomi. Situasi ini menuntut kebijakan yang mampu menjaga kepercayaan pasar sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

Pada akhirnya, kekhawatiran terbesar dari pelemahan rupiah bukan sekadar soal berapa rupiah yang dibutuhkan untuk menebus satu dolar AS. Persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat adalah apakah penghasilan mereka masih sanggup mengimbangi kenaikan biaya hidup. Sebab, kurs yang melemah akan jadi masalah serius jika terus menggerus daya beli dan mempersulit dunia usaha untuk berkembang.

Angka Rp 18.102 per dolar AS menjadi pengingat, kondisi ekonomi global dan kebijakan domestik selalu bertautan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Menjaga kestabilan rupiah adalah bagian penting dari upaya mempertahankan harga yang terjangkau, keberlangsungan usaha, dan lapangan kerja. Sebab pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan ekonomi tidak hanya terlihat dari membaiknya angka di pasar keuangan, melainkan juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan kesejahteraannya.



Follow Widget