Laporan Investor Daily edisi 26 Oktober 2026 mencatat harga minyak mentah Brent berkisar di 115 dolar AS per barel pada awal perdagangan. Bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak dan bahan bakar, kombinasi harga minyak mahal dan dolar yang terus menguat menciptakan tekanan ganda yang jauh lebih rumit dibanding sekadar fluktuasi kurs biasa.

Menariknya, pelemahan ini tidak dialami seragam oleh seluruh mata uang Asia. Pagi itu, peso Filipina dan baht Thailand ikut tertekan. Namun yen Jepang, ringgit Malaysia, dan yuan China justru mencatat penguatan pada periode pengamatan tertentu.

Perbedaan ini membuktikan bahwa tekanan global tak selalu berdampak sama ke setiap negara. Kondisi domestik, arus modal, kebutuhan dolar, dan kepercayaan investor ikut menentukan seberapa kuat mata uang bertahan. Karena itu, menyalahkan situasi internasional saja tanpa menengok persoalan di dalam negeri jelas tidak cukup.

Salah satu dampak yang patut diwaspadai adalah melonjaknya biaya produksi, terutama bagi industri yang masih mengandalkan bahan baku impor. Perusahaan harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli komponen, suku cadang, hingga mesin produksi. Jika tekanan ini berlangsung lama, perusahaan dipaksa mencari jalan keluar agar operasional tetap jalan tanpa mengorbankan keberlangsungan usaha.

Sayangnya, tidak semua perusahaan punya bantalan keuangan yang cukup. Sebagian memilih menekan margin keuntungan, mendorong efisiensi, atau menunda pembelian peralatan baru. Sebagian lain, yang ruang geraknya lebih sempit, mungkin terpaksa menaikkan harga jual demi menutup ongkos produksi yang membengkak.



Follow Widget