JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu siang, 15 Oktober 2026. Pertemuan itu bukan sekadar rutinitas. Di baliknya, tersimpan sejumlah isu energi yang tengah menjadi perhatian serius pemerintah.

Bahlil datang membawa laporan yang mencakup tiga isu strategis sekaligus: pembahasan Rancangan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi, evaluasi gangguan kelistrikan di berbagai daerah, serta kondisi pasokan dan distribusi bahan bakar minyak secara nasional. Ketiga isu ini bukan hal baru, namun urgensinya kian meningkat seiring kebutuhan energi masyarakat yang terus berkembang.

RUU Migas menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Regulasi ini dianggap krusial karena akan menjadi landasan hukum baru bagi tata kelola industri minyak dan gas di Indonesia, menggantikan aturan lama yang dinilai sudah tidak relevan dengan dinamika sektor energi masa kini. Pemerintah tampaknya ingin memastikan proses legislasi ini berjalan sesuai target.

Selain soal regulasi, Presiden juga menerima laporan mengenai gangguan kelistrikan yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Bahlil menyampaikan bahwa kualitas layanan listrik perlu ditingkatkan agar masyarakat bisa menikmati pasokan yang lebih andal dan stabil. Ini bukan persoalan teknis semata, melainkan menyangkut kebutuhan dasar jutaan warga.

Gangguan kelistrikan yang terjadi di berbagai daerah dalam beberapa waktu terakhir memang menjadi sorotan publik. Pemadaman bergilir, lonjakan beban, hingga kerusakan jaringan distribusi mencerminkan tantangan infrastruktur energi yang belum sepenuhnya terselesaikan. Pemerintah kini didorong untuk bergerak lebih cepat dalam memperkuat sistem kelistrikan nasional.



Follow Widget