Di titik inilah pelemahan rupiah mulai menyentuh dompet masyarakat. Ketika biaya bahan baku, pengolahan, dan distribusi naik bersamaan, harga akhir produk pun ikut bergeser. Meski begitu, dampaknya tidak selalu instan, bergantung pada stok barang, kebijakan perusahaan, tingkat persaingan, dan kemampuan produsen menyerap kenaikan biaya.
Persoalan terbesar muncul jika kenaikan harga melaju lebih kencang dibanding kenaikan penghasilan. Gaji pekerja umumnya tidak serta-merta menyesuaikan setiap kali kurs bergerak, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Ketimpangan ini membuat uang yang dulu cukup kini terasa semakin pas-pasan, bahkan kurang.
Rumah tangga berpenghasilan rendah paling rentan terkena imbasnya, sebab sebagian besar pendapatan mereka habis untuk kebutuhan pokok. Pengeluaran untuk makanan, transportasi, listrik, pendidikan, dan kesehatan sulit dipangkas tanpa mengganggu kehidupan sehari-hari. Alhasil, ruang untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lain pun kian menyempit.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah juga tak luput dari dampaknya. Meski bertransaksi dengan rupiah, bahan baku atau peralatan yang mereka beli dari pemasok lokal belum tentu seratus persen produk dalam negeri. Jika pemasok itu menggunakan komponen impor, kenaikan biaya di level mereka otomatis merembet ke harga yang dibayar pelaku UMKM.
Usaha misalnya, berpotensi menghadapi kenaikan harga kemasan dan bahan tambahan yang bergantung pada impor. Usaha konveksi bisa terdampak lewat harga kain, aksesori, atau mesin jahit. Sementara pedagang elektronik rawan menanggung kenaikan biaya pengadaan barang karena banyak komponennya diperdagangkan dalam denominasi dolar.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.