JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Nilai tukar rupiah kembali merosot. Pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, mata uang Garuda menyentuh angka Rp 18.102 per dolar Amerika Serikat, melemah 22 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya.

Posisi ini membuat rupiah bertengger di atas ambang psikologis Rp 18.100 per dolar AS. Sebuah level yang bukan sekadar angka di layar monitor, melainkan sinyal yang berpotensi merambat ke berbagai lini perekonomian nasional.

Pelemahan ini tidak datang dalam sekali hentak. Data Bloomberg yang dikutip Katadata mencatat rupiah dibuka di Rp 18.085 per dolar AS, lalu terus tergerus hingga Rp 18.105 pada pukul 09.30 WIB. Sementara BeritaSatu mencatat angka Rp 18.101 pada pukul 09.21 WIB, pertanda tekanan berlangsung sepanjang sesi pagi.

Bagi kebanyakan orang, fluktuasi kurs sering dianggap urusan bank dan investor besar semata. Padahal, pelemahan rupiah menyentuh hal-hal yang jauh lebih dekat, biaya produksi, harga bahan baku, hingga daya beli rumah tangga.

Logikanya sederhana. Ketika kurs ada di Rp 16.000, barang impor seharga 100 dolar AS membutuhkan Rp 1.600.000. Namun pada kurs Rp 18.102, barang yang sama membutuhkan Rp 1.810.200, lebih mahal Rp 210.200 meski harga dalam dolar tak berubah sepeser pun.



Follow Widget