Tekanan terhadap UMKM semakin berat saat kenaikan biaya produksi berbarengan dengan melemahnya daya beli konsumen. Pelaku usaha tak bisa seenaknya menaikkan harga karena pembeli punya banyak pilihan dan batas pengeluaran. Akibatnya, keuntungan kian menipis meski volume penjualan tak banyak berubah.

Bila situasi ini berlarut, sebagian pengusaha mungkin menunda perekrutan karyawan baru, mengurangi stok, atau membatasi ekspansi usaha. Langkah itu diambil demi menjaga arus kas agar kebutuhan operasional tetap tertutup. Namun jika makin banyak pelaku usaha mengambil jalan serupa, pertumbuhan lapangan kerja dan geliat ekonomi di tingkat masyarakat juga ikut melambat.

Meski begitu, pelemahan rupiah bukan kabar buruk bagi semua orang. Sektor ekspor justru berpeluang menangguk untung lebih besar saat pembayaran dalam dolar dikonversi ke rupiah. Peluang ini terutama terbuka bagi perusahaan yang menjual produk ke luar negeri namun biaya produksinya sebagian besar dikeluarkan dalam rupiah.

Sebagai gambaran, eksportir yang menerima pembayaran 10.000 dolar AS akan mengantongi Rp 160 juta saat kurs Rp 16.000 per dolar. Dengan kurs Rp 18.102, nilai yang sama menjadi Rp 181,02 juta. Namun tambahan pendapatan ini belum tentu berujung laba bersih bila biaya bahan baku, pengiriman, atau kewajiban berdenominasi dolar turut membengkak.

Potensi cuan dari ekspor inilah yang membuat dampak pelemahan mata uang perlu dilihat secara utuh, tidak hitam putih. Industri yang mengandalkan bahan baku lokal sekaligus menyasar pasar internasional berpeluang diuntungkan. Sebaliknya, industri yang bergantung pada impor namun hanya berjualan di pasar domestik justru menanggung beban biaya lebih berat.



Follow Widget