YAMAN, PUNGGAWANEWS – Langit di atas desa al-Shariya mendadak berubah menjadi neraka. Puluhan rumah warga hancur lebur setelah serangan udara menghujam kawasan permukiman yang terletak tak jauh dari Sanaa, ibu kota Yaman, pada Minggu, 8 November . Setidaknya 27 orang meninggal dunia dan 36 lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak yang tak punya urusan apa pun dengan perang.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Yaman yang berada di bawah kendali kelompok Houthi, Anees Alasbahi, secara tegas menunjuk Arab Saudi sebagai dalang di balik serangan mematikan itu. Tuduhan ini bukan yang pertama kali dilontarkan, namun bobot korban jiwa kali ini membuat pernyataan tersebut bergema jauh lebih keras dari biasanya.

Konflik bersenjata di Yaman sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Pertarungan antara kelompok Houthi yang mendapat sokongan dari Iran dengan pemerintah Yaman yang ditopang koalisi pimpinan Arab Saudi telah mengubah negeri itu menjadi salah satu arena perang paling berdarah di dunia. Gencatan senjata yang sempat memberi napas bagi jutaan warga sipil kini runtuh, dan kekerasan kembali menyala dengan intensitas yang mengkhawatirkan.

Dua hari sebelum tragedi di al-Shariya, Jumat lalu, serangan udara lain menghantam sebuah pasar yang ramai di wilayah selatan Yaman. Pasar yang seharusnya menjadi tempat warga mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari itu berubah menjadi lokasi pembantaian. Sedikitnya 30 orang dilaporkan tewas dalam insiden tersebut, menurut pejabat Houthi yang dikutip kantor berita Sky News.

Dua belah pihak saling tuding soal siapa yang bertanggung jawab atas serangan pasar itu. Kelompok Houthi menuding militer Yaman yang berpihak kepada koalisi Arab Saudi, sementara pihak sebaliknya melemparkan tuduhan yang sama. Situasi ini mencerminkan betapa rumitnya konflik Yaman yang telah lama kehilangan jalur diplomasinya.



Follow Widget