TAIWAN, PUNGGAWANEWS – Ribuan kilometer dari Indonesia, di sudut kota Chungli dan Taoyuan, Taiwan, lantunan bahasa Jawa, Melayu, hingga logat Medan terdengar akrab di telinga. Bukan di kampung halaman, melainkan di deretan toko, warung makan, dan musala yang berdiri kokoh di balik stasiun kereta, membentuk apa yang kini dikenal sebagai “Kampung Indonesia” di negeri Formosa.

Taiwan bukan sekadar destinasi kerja. Bagi lebih dari 300.000 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kini menetap di sana, Taiwan adalah tempat menggantungkan harapan, membiayai pendidikan anak, membangun rumah, dan—bagi sebagian yang lain—memulai babak baru kehidupan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dari total sekitar 800.000 tenaga kerja asing di Taiwan, Indonesia menjadi penyumbang terbesar, diikuti Vietnam dan Filipina. Mereka tersebar di berbagai sektor: pabrik manufaktur, konstruksi bangunan, hingga pekerja rumah tangga yang merawat lansia.

Di Distrik Chungli, Kota Taoyuan, terdapat sebuah jalan yang atmosfernya sangat Indonesia. Begitu keluar dari Stasiun Chungli, deretan tulisan berbahasa Indonesia langsung menyambut: warung makan, salon rambut, musala PMI, gereja GBI, hingga layanan pengiriman barang ekspres ke Indonesia. Semuanya berdiri berdampingan dalam satu koridor yang terasa seperti penggalan kampung halaman yang dipindahkan ke luar negeri.

Musala PMI Alamin berada di lantai empat sebuah gedung. Di lantai yang sama, tersedia penjualan daging segar—ayam, bebek, kambing, sapi—dengan sistem kepercayaan: ambil sendiri dari freezer, lalu taruh uang di kotak yang tersedia. Sebuah sistem yang hanya bisa berjalan karena komunitas yang saling percaya.



Follow Widget