JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini memasuki babak baru. Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan transformasi menyeluruh yang disebut MBG 2.0, sebuah pembaruan sistemik yang menyentuh hampir seluruh lini program, mulai dari skema insentif dapur, pengawasan keamanan pangan, hingga digitalisasi rantai pasokan bahan baku. Kepala BGN, Sudaryono, menjadi motor utama perubahan ini yang mulai bergulir pada akhir Oktober 2026.

Perubahan paling mendasar terasa pada mekanisme insentif dapur mitra MBG. Sejak 5 Oktober 2026, sistem lama yang memberikan insentif tetap sebesar Rp6 juta per hari resmi ditinggalkan. Sebagai gantinya, BGN menerapkan skema baru berbasis porsi, yakni Rp2.000 per porsi yang disajikan. Pergeseran ini bukan sekadar penyesuaian teknis, melainkan langkah strategis untuk mengikat kinerja dapur langsung pada output nyata yang dihasilkan.

Dengan skema lama, dapur yang memproduksi sedikit porsi tetap mendapat insentif penuh. Ketimpangan itu dianggap BGN sebagai celah yang selama ini dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab. Kini, semakin banyak porsi berkualitas yang tersaji, semakin besar pula insentif yang diterima.

Di balik perubahan skema insentif itu, BGN juga mengklaim keberhasilan efisiensi anggaran yang cukup signifikan. Dalam 100 hari pertama kepemimpinan Sudaryono, lembaga tersebut mencatat efisiensi anggaran negara sebesar Rp44 triliun. Dana yang berhasil diselamatkan itu diklaim berasal dari pemberantasan praktik koruptif dan jaringan calo yayasan yang sebelumnya menggerogoti program dari dalam.

Angka Rp44 triliun memang terdengar besar. Namun BGN menekankan bahwa efisiensi itu bukan berarti pemotongan layanan, melainkan pemangkasan kebocoran yang selama ini tidak terdeteksi dalam sistem pengadaan dan distribusi program.



Follow Widget