BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di Jawa Barat bukan sekadar seremoni pengibaran bendera. Di hadapan Forkopimda dan ribuan warga yang menyaksikan Kirap Sang Saka Merah Putih dari Gedung Pakuan menuju Gedung Sate, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi justru melontarkan kritik keras yang menohok: delapan puluh satu tahun merdeka, tapi mentalitas feodal dalam birokrasi masih hidup dan menggerogoti anggaran rakyat.

Suasana upacara kali ini tampil berbeda. Prosesi kirab membawa unsur tradisi dan budaya lokal, menciptakan nuansa perayaan kemerdekaan yang lebih hidup dan membumi. Namun di balik kemeriahan itu, Dedi memilih momen langka ini untuk bicara jujur tentang kondisi nyata yang masih dihadapi masyarakat Jawa Barat.

Dedi membuka pidatonya dengan pengakuan yang jarang terdengar dari seorang pejabat tinggi. Ia menyebut bahwa layanan dasar pemerintahan selama ini belum berjalan efektif, dan pemerintah harus berani mengakuinya tanpa basa-basi.

Salah satu fakta yang ia ungkap langsung mengejutkan banyak pihak. Saat ia mulai menjabat, sebanyak 100.000 warga Jawa Barat masih hidup tanpa listrik. Padahal, Jawa Barat adalah provinsi penghasil energi listrik terbesar, dengan pembangkit listrik tenaga air, panas bumi, hingga panel surung terapung di Waduk Cirata yang kini menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

“Jawa Barat adalah pusat energi listrik. Tapi ada 100.000 warganya yang tidak mendapat listrik,” ujar Dedi dengan nada prihatin.



Follow Widget