MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Dasarnya kini terlihat. Batu-batu besar di Sungai Jeneberang yang bertahun-tahun bersembunyi di balik arus deras tiba-tiba muncul ke permukaan, telanjang dan kering. Di Bendungan Bilibili, Kabupaten Gowa, saluran pelimpah yang biasanya menderu kini membisu — hanya menyisakan cekungan berlumpur dan genangan dangkal yang hampir tidak bergerak.

Itu pemandangan yang terlihat pada Kamis, 1 Oktober 2026. Dan bagi 180 ribu pelanggan PDAM Makassar, gambar itu bukan sekadar foto kekeringan — itu adalah peringatan dini yang sangat nyata.

Bilibili bukan bendungan sembarangan. Ia adalah jantung sistem air bersih Sulawesi Selatan bagian selatan. Dari sinilah air baku mengalir ke pipa-pipa yang menjangkau rumah, warung, dan gedung-gedung di Kota Makassar. Dari sinilah pula irigasi menyuplai lebih dari 23.000 hektare sawah di Kabupaten Gowa — ladang padi yang menghidupi ribuan petani dan keluarganya.

Ketika bendungan ini sakit, semuanya ikut merasakan.

Kemarau panjang yang menggerus Sulsel dalam beberapa bulan terakhir bukan fenomena baru. Tapi tahun ini terasa berbeda. El Niño — anomali iklim yang menghangatkan Samudra Pasifik dan mengurangi pasokan uap air ke daratan — masih cukup kuat untuk mengacak-acak pola cuaca wilayah ini hingga setidaknya pertengahan 2027.

Kepala BMKG Wilayah Makassar, Nasrul Adil, memilih tidak memperburuk kepanikan. Namun ia juga tidak memberikan janji manis. Di hadapan publik pada Kamis itu, ia bicara apa adanya: musim hujan yang biasanya tiba November-Desember tahun ini akan terlambat. Bukan sedikit, tapi dua hingga tiga dasarian — artinya bisa sampai tiga hingga empat pekan lebih lambat dari jadwal normal.



Follow Widget