BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Ketika bencana menerjang Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat tidak sekadar mengirim truk berisi sembako lalu merasa cukup. Gubernur Dedi Mulyadi menggerakkan mesin solidaritas lintas sektor hingga terkumpul Rp4 miliar — sebuah angka yang, setidaknya di atas kertas, membuktikan bahwa empati bisa dikuantifikasi.

Penggalangan dana itu bukan kerja sendirian. Dedi menggandeng Baznas Jabar, Bank BJB, Kwarda Pramuka Jabar, Kadin, hingga Apindo — sebuah koalisi yang terdengar seperti daftar tamu pesta, namun kali ini berkumpul untuk urusan yang jauh lebih serius.

Dari total Rp4 miliar yang berhasil dikumpulkan, Baznas Jabar menyumbang Rp1 miliar, Bank BJB menyusul dengan nominal yang sama, dan sang gubernur sendiri merogoh kocek pribadi sebesar Rp600 juta. Sisanya? Tentu dari para pelaku usaha yang, entah karena panggilan nurani atau sekadar tak ingin canggung saat gubernur menodong proposal donasi, turut berpartisipasi.

Yang menarik — dan ini bagian yang jarang dilakukan institusi lain — Pemprov Jabar tidak serta-merta memborong kebutuhan pokok dari Bandung lalu mengangkutnya ribuan kilometer ke NTT. Mereka berencana membeli langsung di wilayah terdampak, termasuk kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya. Logikanya sederhana namun brilian: bantuan lebih cepat sampai, dan uang berputar di ekonomi lokal yang sedang sekarat.

Bayangkan skenario sebaliknya — truk logistik merayap dari Jawa Barat, bahan pokok tiba dua minggu kemudian dalam kondisi setengah layu, sementara pedagang lokal di NTT justru kehilangan pembeli karena semua orang menunggu bantuan gratis dari luar. Skema belanja lokal ala Jabar ini, walau terdengar sepele, sebenarnya adalah koreksi atas pola bantuan konvensional yang selama ini lebih mementingkan foto pengiriman daripada dampak nyata di lapangan.



Follow Widget