Soal infrastruktur, Dedi juga menyoroti kondisi kawasan Sukabumi, Cianjur, dan Garut di wilayah Priangan Selatan yang hingga kini masih terisolasi secara aksesibilitas. Banyak daerah yang untuk mencapai jalan utama saja harus melewati jalur berliku dan kondisi jalan yang jauh dari layak.

Ia berkomitmen menyelesaikan persoalan listrik dalam dua tahun anggaran ke depan, sementara infrastruktur dan layanan dasar lainnya akan diselesaikan secara bertahap seiring kebijakan realokasi anggaran yang terus diperbaiki.

Yang menarik, Dedi tidak lupa menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, baik yang merespons positif kebijakan-kebijakannya maupun yang melancarkan kritik. Baginya, kritik adalah bagian dari proses koreksi yang sehat dalam demokrasi.

Suasana upacara hari itu pun diwarnai mendung dan rintik hujan. Dedi menyebut kondisi itu sebagai berkah, sekaligus metafora yang tepat: langit yang tidak terik memaksa semua orang—termasuk para pejabat—berdiri di bawah kondisi yang sama, tanpa tenda, tanpa AC, tanpa jarak.

Sebuah simbol kecil, tapi mungkin itulah yang ingin ia sampaikan pelayan rakyat seharusnya tidak lebih nyaman dari rakyat yang dilayaninya.



Follow Widget