BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Namanya kini tak hanya dikenal di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, mendapat sorotan dari media Inggris terkait popularitasnya yang terus melejit. Merespons hal itu, KDM memilih bersikap rendah hati—berterima kasih kepada siapa pun, sekaligus mengakui masih banyak kekurangan dalam kepemimpinannya.
Sorotan media internasional terhadap seorang kepala daerah Indonesia bukan hal yang terjadi setiap hari. Namun bagi KDM, perhatian itu justru tidak membuatnya besar kepala. Ia menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang diterima, sambil menegaskan bahwa pekerjaan besar masih menanti di hadapannya.
“Saya mengucapkan terima kasih pada siapa pun yang mengapresiasi saya. Tetapi saya hari ini pasti banyak kekurangan yang dimiliki. Kita akan terus memberikan yang terbaik, layanan bagi masyarakat Jawa Barat,” ujar Dedi saat diwawancarai.
Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi. Dalam berbagai kesempatan, KDM memang dikenal sebagai gubernur yang aktif berinteraksi langsung dengan warganya, terutama melalui media sosial. Pola kepemimpinan inilah yang rupanya menarik perhatian publik luas, hingga menembus pemberitaan media asing.
Menurut Dedi, masyarakat Jawa Barat kini telah berkembang menjadi komunitas yang kritis dan tidak segan menyuarakan aspirasi secara langsung kepada pemimpinnya. Kondisi ini, alih-alih dianggap beban, justru ia sambut sebagai energi untuk bekerja lebih keras.
Ia mencontohkan sebuah kejadian nyata: seorang warga dari Kota Tasikmalaya menghubunginya karena membutuhkan dana untuk membayar infeksi mata yang tidak ditanggung BPJS. Tanpa menunggu lama, KDM langsung merespons dan menyelesaikan masalah tersebut.
“Pola interaksi langsung pemimpin dengan masyarakat melalui media sosial hari ini memang sudah berjalan di Jawa Barat,” katanya. Ia mengaku setiap hari memantau perkembangan dan laporan dari warga, sehingga ketika bertemu dengan pejabat terkait, ia sudah mengetahui persoalan yang harus diselesaikan.
Bukan hanya apresiasi yang ia sambut dengan terima kasih. Dedi juga menegaskan bahwa kritik pun ia terima dengan lapang dada. “Bukan hanya yang mengapresiasi—yang mengkritik saya tiap hari juga saya ucapkan terima kasih,” ungkapnya dengan nada ringan namun penuh makna.
Sikap terbuka terhadap kritik ini mencerminkan gaya kepemimpinan KDM yang kerap tampil tanpa jarak dengan rakyatnya. Ia tidak menempatkan diri sebagai figur yang jauh dan tak terjangkau, melainkan sebagai pemimpin yang hadir dan bisa dihubungi kapan saja.
Di sela wawancara mengenai sorotan media Inggris itu, KDM juga menyinggung sejumlah program pembangunan dan penataan wilayah di Jawa Barat. Salah satunya adalah proyek penataan kawasan yang mencakup pembongkaran bangunan di beberapa titik, termasuk di Ciamas.
Proses pembongkaran disebut akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama difokuskan pada pembongkaran material besi yang terlebih dahulu harus melalui proses lelang. Nilai pekerjaan dan nilai ekonomis material besi akan dihitung oleh Dinas Pekerjaan Umum sebelum proses lelang resmi dimulai.
KDM menargetkan pembongkaran bisa dimulai pada Oktober, meski mengakui bahwa proses lelang kemungkinan baru akan berjalan di bulan yang sama. Ia berharap paling lambat satu bulan setelah lelang, seluruh proses pembongkaran sudah selesai.
Mengenai teknis penutupan jalan selama proses berlangsung, KDM menyerahkan keputusan kepada pihak pelaksana yang memiliki kapasitas teknis. Ia menegaskan bahwa detail operasional akan ditentukan oleh tim yang menjalankan pekerjaan di lapangan.
Sebelumnya, KDM juga menyampaikan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional di wilayahnya. Ia menegaskan pentingnya menjadi tuan rumah yang baik, termasuk dengan menyiapkan sarana dan prasarana pendukung secara maksimal.
“Kita harus support menjadi tuan rumah yang baik. Berbagai sarana prasarana kita bantu persiapkan sehingga kegiatannya berjalan lancar dan memuaskan semua orang,” katanya, terutama mengingat banyak tamu dari luar negeri yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Popularitas KDM memang bukan fenomena baru. Sejak aktif di media sosial dan konsisten merespons laporan warga, namanya kerap menjadi perbincangan di berbagai platform digital. Kini, dengan sorotan media internasional, nama Dedi Mulyadi semakin dikenal melampaui batas geografis Jawa Barat.
Yang menarik, alih-alih memanfaatkan momentum itu untuk kepentingan pencitraan semata, KDM justru memilih untuk kembali fokus pada tugas pokoknya: melayani lebih dari 49 juta warga Jawa Barat sebaik-baiknya. Bagi dia, popularitas bukan tujuan—melainkan konsekuensi dari kerja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Di tengah banyaknya kepala daerah yang lebih suka tampil di panggung seremonial, pendekatan KDM yang turun langsung dan merespons masalah warga secara real-time menjadi pembeda yang nyata. Dan rupanya, dunia pun mulai memperhatikan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.