PUNGGAWANEWS – Hampir tidak ada sudut kota di Indonesia yang luput dari jangkauan Indomaret. Di pinggir jalan raya, dekat kompleks perumahan, di sekitar kampus, bahkan di kawasan yang baru dibuka, minimarket dengan warna merah, kuning, dan biru itu sudah lebih dulu hadir. Tapi pernahkah kita benar-benar bertanya: dari mana sesungguhnya uang Indomaret berasal?

Jawaban paling mudah adalah dari penjualan produk. Beli dari pemasok, jual ke konsumen dengan harga lebih tinggi. Tapi kalau sesederhana itu, bagaimana perusahaan ini bisa membangun jaringan lebih dari 24.000 gerai yang tersebar di seluruh penjuru negeri?

Kisah Indomaret dimulai pada 1988, ketika toko pertamanya dibuka di Ancol, Jakarta. Tujuan awalnya sederhana: menyediakan kebutuhan sehari-hari di lokasi yang mudah dijangkau masyarakat. Nama “Indomaret” mulai digunakan pada 1995, dan dua tahun kemudian perusahaan ini meluncurkan program waralaba yang kelak menjadi salah satu mesin pertumbuhan terbesarnya.

Keputusan masuk ke sistem waralaba bukan tanpa alasan. Membuka semua gerai dengan modal sendiri butuh investasi raksasa dan manajemen yang luar biasa kompleks. Dengan sistem waralaba, pihak lain bisa menjadi mitra—menjalankan gerai menggunakan merek, sistem, dan dukungan operasional Indomaret berdasarkan perjanjian yang telah ditetapkan.

Lantas, seberapa besar bisnis ini secara finansial? Data dari laporan tahunan Indoritel memberikan gambaran yang cukup jelas. Pada 2024, penjualan bersih PT Indomarco Prismatama tercatat sekitar Rp112,8 triliun. Angka ini naik menjadi sekitar Rp116,7 triliun pada 2025. Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2025 tercatat sekitar Rp2,95 triliun.



Follow Widget