BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membuka pidatonya di hadapan ratusan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat pada Jumat 2/10, dengan sebuah pengakuan yang langsung memancing gelak tawa sekaligus perenungan — bahwa di masa lalu, menjadi ketua PWI kabupaten bisa membuat seorang jurnalis duduk sejajar dengan bupati, bahkan mendapat jatah alokasi proyek.
“Dulu, kadang wartawan bisa dapat alokasi dana proyek di kabupaten-kota. Dulu ya, bukan sekarang,” ujar Dedi dalam acara pelantikan pengurus PWI Jawa Barat, disambut tawa hadirin yang memenuhi Gedung Merdeka.
Pernyataan itu bukan sekadar anekdot. Dedi sedang menggambarkan betapa dalamnya transformasi dunia jurnalisme — dari era ketika wartawan adalah figur yang ditakuti dan dihormati, hingga kini ketika siapapun bisa menjadi “jurnalis” hanya bermodal akun media sosial dan telepon pintar.
Dedi mengenang masa kecilnya, ketika mendapatkan majalah atau koran tiga hari sekali saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Akses informasi begitu terbatas, sehingga profesi jurnalis menjadi sangat bergengsi. Hanya segelintir orang yang bisa menyandang profesi itu, dan seluruhnya bernaung di bawah PWI.
Namun dunia berubah. Era reformasi membuka keran kebebasan pers selebar-lebarnya. Organisasi jurnalistik bermunculan. Bahkan, kata Dedi, orang yang hanya memegang selembar stensilan pun bisa mengaku wartawan. Di sinilah, menurut Dedi, profesionalisme jurnalisme mulai terkikis.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.