Di sinilah Dedi membawa analogi yang tajam: birokrasi yang boros dan lebih mementingkan kenyamanan pejabat adalah wujud modernisasi dari mentalitas feodal. Ia mengaitkannya langsung dengan sejarah kelam feodalisme di masa kolonial, saat kelas feodal pribumi justru ikut mengeksploitasi rakyatnya sendiri demi kepentingan penguasa asing.

Dedi menyebut momen kemerdekaan ini kerap diisi dengan semangat mengecam kolonialisme Belanda dan Jepang. Namun ia mengingatkan bahwa perilaku imperialistik yang bersumber dari dalam diri bangsa sendiri juga nyata adanya, dan tidak kalah berbahaya.

“Feodalisme zaman dulu menjadikan rakyat sebagai objek pemenuhan kebutuhan kelas feodal. Kalau hari ini kita habiskan uang rapat puluhan juta, makanan tiga ratus ribu per orang, tapi rakyat tak merasakan apa-apa—itu feodalisme yang berulang,” katanya tegas.

Ia juga menyinggung soal gaya kepemimpinan yang kerap mengedepankan atribut jabatan dan protokol berlebihan. Menurutnya, seragam resmi, pangkat, dan simbol-simbol status justru menciptakan jarak antara pejabat dan masyarakat yang seharusnya mereka layani.

Dedi sendiri mengaku tidak terlalu memprioritaskan atribut resmi dalam kesehariannya. Baginya, tampil sederhana bukan soal gaya, melainkan soal komitmen untuk tetap dekat dan relevan dengan realitas masyarakat.



Follow Widget