Mahasiswi ketiga yang mendapat giliran adalah Ranti, mahasiswi Manajemen Agribisnis asal Subang, perbatasan Karawang. Ayahnya petani, ibunya ibu rumah tangga. Ketika ditanya tentang cara meningkatkan pendapatan petani Indonesia, Ranti menguraikan tiga langkah: membuat pupuk sendiri, menciptakan bahan bakar alternatif dari tebu, dan beralih dari menjual gabah basah ke beras kemasan organik yang bisa masuk minimarket dan supermarket.

Gubernur KDM langsung menjadikan jawaban itu sebagai “tugas kuliah” bagi Ranti: ubah cara bertani orang tuanya dari pertanian konvensional yang bergantung pada pestisida dan penjualan gabah basah, menjadi pertanian organik dengan produk beras kemasan bermerek. “Itu tugas nyata kamu sepulang dari sini,” tegasnya.

UKT Ranti hanya Rp2,5 juta per semester—jauh di bawah rata-rata. Dengan semangat yang sama, Gubernur KDM memutuskan menanggung enam semester biaya kuliahnya, satu semester lebih banyak dari mahasiswa lain, sebagai apresiasi atas potensi yang ia lihat.

Seluruh proses pencairan dijanjikan langsung ditransfer ke rekening IPB University, tanpa perlu melalui tangan perantara. Para mahasiswa diminta menyerahkan kartu tanda mahasiswa sebagai syarat administrasi.

Dalam satu kunjungan yang tampak spontan itu, Gubernur KDM menanggung biaya kuliah sepuluh mahasiswa IPB sekaligus—melampaui kuota awal yang hanya tujuh orang. Ia menegaskan bahwa perut boleh kosong, asal otak terus penuh semangat. Pesan itu mengena: kemiskinan bukan alasan untuk berhenti bermimpi, selama ada yang mau hadir dan mengulurkan tangan.



Follow Widget