Dalam percakapan yang mengalir santai itu, Gubernur KDM melempar pertanyaan seputar isu pangan nasional. Syarif pun menjawab dengan lugas: tantangan pertanian Indonesia ke depan mencakup perubahan musim akibat El Niño dan pemanasan global yang membuat jadwal tanam tidak menentu, penurunan sumber daya manusia di sektor pertanian, keterbatasan lahan seiring pertumbuhan penduduk, dan merosotnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian.
Ketika ditanya soal peran kimia dalam pertanian, Syarif menyebut kimia organik dan pupuk ramah lingkungan sebagai kunci. Ia menegaskan bahwa pasar ekspor global kini semakin ketat menuntut produk bebas bahan kimia berbahaya—dan Indonesia harus bergerak ke arah itu jika ingin tetap kompetitif.
Penerima beasiswa kedua adalah Lara Sati Putri, mahasiswi asal Tangerang, Banten, yang mengambil program Supervisor Jaminan Mutu Pangan. Ia menjawab pertanyaan tentang limbah makanan dengan runtut: sisa pangan dapat diolah menjadi pupuk alami, ekoenzim, hingga energi biogas. Saat ditanya soal energi murah dan ramah lingkungan, Lara langsung menyebut tenaga surya dan angin.
Lara bahkan melontarkan gagasan yang disambut antusias: bagaimana jika atap rumah warga miskin dirancang sekaligus sebagai panel surya, sehingga mereka tak perlu lagi membayar listrik? Gubernur KDM merespons positif, menyebut ide itu layak dikembangkan dalam program perumahan rakyat ke depan.
Kos Lara lebih murah, Rp850 ribu per bulan, berjarak sekitar lima menit jalan kaki dari kampus. Ia anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai karyawan perusahaan di Tangerang, ibunya ibu rumah tangga. Untuk lima semester ke depan, biaya kuliahnya—tujuh juta per semester—akan ditanggung penuh.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.