Di penghujung pidatonya, Dedi menyampaikan pesan yang paling tegas dan paling diingat dari seluruh rangkaian sambutannya.

KAHMI, tegasnya, bukan panggung politik praktis. Siapa pun yang berharap mendapat keuntungan elektoral dari KAHMI, ia salah alamat. Setiap individu membawa kepentingannya sendiri dalam memilih partai atau pasangan politik — dan itu bukan urusan KAHMI.

KAHMI, kata Dedi, adalah ruang untuk membicarakan kepentingan bangsa, nilai-nilai universal, dan peradaban jangka panjang. Bukan soal siapa mendukung siapa di pemilu berikutnya.

“Soal kekuasaan, kalau memang sudah takdir, tidak ada yang bisa menolak atau memaksanya karena Allah yang memegang segalanya,” ujarnya, disambut tepuk tangan.

Ia menutup dengan harapan agar Muswil KAHMI kali ini melahirkan presidium wilayah yang benar-benar berjiwa pejuang, bukan sekadar penghuni jabatan. Dan agar narasi yang disebarkan ke ruang media sosial adalah narasi nilai dan peradaban — bukan sekadar konten pendek yang lewat tanpa makna.



Follow Widget