Uda Herman, yang kini dikenang Dedi sebagai tokoh yang sangat sibuk menerima tamu pencari sumbangan, menegurnya keras karena tidak membuat laporan pertanggungjawaban setelah menggelar kegiatan. Rp 1 juta yang diberikan pada tahun 1991 itu, kata Dedi, adalah jumlah yang luar biasa besar di masa itu.
Bagi Dedi, teguran itu bukan penghinaan. Itu adalah pelajaran terbaik tentang tanggung jawab yang tidak ia dapatkan dari ruang kuliah mana pun.
Di LK1 yang ia ikuti, Dedi mengaku tidak mengikuti satupun materi secara serius. Ia lebih banyak berkeliling sebagai panitia, menyiapkan konsumsi, mengurus ini dan itu. Satu-satunya sesi yang ia ikuti adalah teknik persidangan — dan itupun hanya karena ia suka berdebat dan menunjuk-nunjuk.
Namun sepekan setelah LK1, ia sudah diundang mengikuti LK2 di Tasikmalaya. Sebulan kemudian, LK3 di Ciputat. Dan tanpa pernah benar-benar duduk manis di pelatihan LK1, ia menjadi instruktur NIK.
Perjalanan yang tidak lazim itu justru membentuknya menjadi pemimpin yang berbeda.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.