Dedi tidak segan-segan mengkritik dunia akademik. Banyak sarjana, katanya, lulus secara administratif tanpa kejujuran dan keberanian menegakkan nilai kebenaran. Toga dan disertasi hanya jadi pajangan bila tidak menghasilkan perubahan nyata di luar tembok kampus.
Ia lalu berbicara tentang relevansi HMI di era digital. Menurutnya, HMI terlalu lama berbicara dalam bahasa langit — bahasa akademik yang tinggi dan elitis — tanpa mampu menyentuh realita desa. Organisasi yang besar harus mampu bicara dengan bahasa bumi, bahasa yang dipahami Mak Icih di warung sebelah.
Justru karena itu, ia menyambut gembira banyak alumni HMI yang kini menjadi kepala desa. Baginya, desa adalah tempat karier politik sesungguhnya dimulai — karena di sanalah jaringan nyata dibangun, bukan di ruang seminar atau sidang pleno.
Di era algoritma ini, lanjut Dedi, dominasi bukan lagi soal siapa yang menguasai organisasi. Dominasi ada di tangan mereka yang konsisten menyuarakan nilai-nilai tanpa henti di ruang digital. Algoritma, katanya, akan selalu mencari mereka yang teguh dan konsisten — bukan mereka yang hanya viral sesaat.
Ia menyinggung lagu Indung yang dikumandangkan di awal acara — lagu ciptaannya sendiri yang lahir pada 2004, saat ibunya wafat. Lagu itu selalu ia bawa ke mana pun ia pergi, sebagai pengingat bahwa semangat seorang ibu adalah semangat perubahan yang paling tulus.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.