Dedi kemudian berbicara tentang bagaimana pengalaman organisasi di HMI mengajarkannya cara meyakinkan orang secara sistematis. Ketika maju sebagai wakil bupati pada 2004, ia mampu membawa 27 dari 45 anggota dewan ke pihaknya setelah delapan kali pertemuan panjang dan meyakinkan.
Bukan dengan uang, bukan dengan janji. Dengan argumen.
Ia mengakui bahwa banyak orang menganggapnya bukan “tampang” politisi saat itu. Cara bicaranya, semangatnya, gaya berpolitiknya lebih mirip aktivis mahasiswa Sunda daripada calon pejabat. Namun itulah yang ia jadikan kekuatan: pemikiran Cak Nur tentang Islam, modernitas, dan ke-Indonesiaan menjadi kompas yang ia pegang sejak era 1970-an.
Di bagian yang lebih serius, Dedi berbicara tentang krisis identitas bangsa. Menurutnya, selama 80 tahun merdeka, Indonesia gagal menerjemahkan nilai-nilai luhur leluhur Nusantara ke dalam sistem tata kelola yang nyata. Nilai-nilai seperti tritangtu dibuana dari tradisi Sunda, atau sangkan paraning dumadi dari Jawa, adalah fondasi peradaban yang ditinggalkan begitu saja.
Akibatnya, eksploitasi sumber daya alam terjadi tanpa henti, kekayaan mengalir ke pusat sementara daerah pertambangan hancur. Akademisi menghasilkan gelar tanpa menghasilkan produk nyata bagi masyarakat. Kampus-kampus berdiri megah, sementara lingkungan sekitarnya semrawut.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.