Di sinilah pelajaran dari New York menjadi relevan. Kota tersebut memulai programnya dengan masalah yang jelas, yaitu tingginya biaya pangan. Setelah masalahnya ditentukan, supermarket, anggaran, lokasi, operator, dan standar harga disusun sebagai alat untuk menyelesaikannya.
Indonesia seharusnya dapat melakukan lebih banyak karena koperasi berada sangat dekat dengan pusat produksi pangan. Kita bukan hanya memiliki masyarakat yang membutuhkan bahan makanan terjangkau, tetapi juga jutaan produsen kecil yang membutuhkan pasar. Apabila kedua sisi itu disambungkan, koperasi tidak hanya menurunkan biaya belanja, tetapi juga menggerakkan pendapatan masyarakat desa.
Indonesia tidak perlu menyalin model New York secara persis. Bentuk kepemilikan, kondisi pasar, dan luas wilayahnya berbeda. Namun, prinsip dasarnya layak dipelajari. Sebuah toko atau lembaga ekonomi harus dibangun berdasarkan masalah yang hendak diselesaikan, bukan hanya karena pembukaan gerai mudah diperlihatkan sebagai pencapaian.
Kalau masalah suatu desa adalah harga gabah jatuh, koperasi harus mampu membeli, menyimpan, atau mengolah gabah tersebut. Kalau sayuran cepat rusak, koperasi harus menyediakan ruang penyimpanan dan jalur pengiriman. Kalau harga telur rendah di kandang tetapi tinggi di pasar, koperasi harus membantu memperpendek jalurnya.
Gerai sembako tetap penting, tetapi ia seharusnya menjadi bagian akhir dari sistem usaha yang lebih luas. Di belakang gerai harus ada kerja sama dengan produsen lokal, data kebutuhan masyarakat, gudang yang berfungsi, kendaraan pengangkut, pengelola yang terlatih, dan pencatatan keuangan yang terbuka. Tanpa itu, koperasi hanya akan sibuk menjual barang yang sebenarnya sudah tersedia di warung sekitar.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.