PUNGGAWANEWS – Ketika kabut asap dari Kalimantan menyeberangi perbatasan dan memaksa ratusan sekolah di Sarawak, Malaysia tutup, satu pertanyaan menggantung: bagaimana dengan perlindungan anak-anak di negara tempat kebakarannya sendiri terjadi?

Pada 12 Agustus 2026, Indeks Polusi Udara atau API di Serian, Sarawak, menembus angka 200—masuk kategori sangat tidak sehat. Pemerintah Sarawak bergerak cepat. Ratusan sekolah ditutup sementara, kegiatan belajar dipindahkan ke rumah, dan orang tua tidak perlu menebak-nebak keputusan itu karena sistemnya sudah jelas: ketika angka melampaui batas, sekolah berhenti.

Sarawak Disaster Management Committee mengumumkan sebanyak 108 sekolah di Serian terdampak penutupan. Data Dinas Pendidikan Sarawak kemudian mencatat 107 sekolah, terdiri dari 99 sekolah dasar dan delapan sekolah menengah. Selisih satu sekolah tidak mengubah inti persoalannya: ketika udara berbahaya, aktivitas anak dihentikan. Titik.

Yang membuat situasi ini terasa lebih dari sekadar bencana cuaca adalah asal asap tersebut. ASEAN Specialised Meteorological Centre atau ASMC telah mendeteksi peningkatan titik panas di Kalimantan sejak awal Agustus, lengkap dengan pergerakan asapnya menuju bagian barat Sarawak. Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga mencatat asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat terpantau menyeberangi perbatasan menuju Malaysia pada beberapa hari sepanjang awal bulan itu.

Tentu, bukan berarti seluruh asap di langit Sarawak dikirim dari Kalimantan seorang diri. Kebakaran juga terjadi di wilayah Malaysia sendiri. Namun pemantauan regional menunjukkan kontribusi asap lintas batas itu nyata. Artinya, kebakaran yang terjadi di wilayah Indonesia tidak berhenti menjadi masalah lokal begitu apinya padam atau angin berubah arah.



Follow Widget