Keadaan tersebut menunjukkan bahwa masalah pangan bukan hanya soal kemampuan produksi. Indonesia dapat menghasilkan beras, telur, ikan, buah, dan sayuran dalam jumlah besar, tetapi distribusinya belum selalu membuat produsen dan konsumen sama-sama diuntungkan. Petani dapat menerima harga rendah pada saat masyarakat tetap membayar mahal.
Koperasi seharusnya hadir di antara dua keadaan tersebut. Perannya bukan menghapus seluruh pedagang karena distribusi tetap membutuhkan banyak tenaga dan keahlian. Koperasi dibutuhkan untuk memperpendek bagian rantai yang terlalu panjang, memperbaiki penyimpanan, dan memperkuat posisi produsen ketika berhadapan dengan pasar.
Karena itu, keberhasilan koperasi tidak cukup dihitung dari jumlah gedung yang diresmikan atau banyaknya rak yang terisi. Ukurannya juga harus mencakup berapa banyak hasil produksi warga yang terserap, seberapa besar kerusakan pangan dapat ditekan, dan apakah selisih harga antara produsen dengan konsumen berhasil diperkecil. Tanpa ukuran tersebut, koperasi mudah terlihat aktif secara fisik tetapi lemah secara fungsi.
Fasilitas gudang dan penyimpanan dingin yang tercantum dalam rancangan program juga tidak boleh menjadi pelengkap. Bagi petani dan nelayan, kemampuan menyimpan produk dapat menentukan apakah hasil panen harus dilepas murah pada hari yang sama atau bisa dijual ketika harga lebih baik. Bagi konsumen, penyimpanan yang baik menjaga pasokan lebih stabil dan mengurangi kenaikan harga akibat barang cepat rusak.
Layanan logistik juga seharusnya tidak hanya dipahami sebagai jasa pengiriman paket. Kendaraan dan jaringan distribusi koperasi dapat digunakan untuk membawa hasil produksi dari desa menuju pasar, kota, sekolah, rumah makan, atau koperasi lain yang membutuhkan. Dengan demikian, setiap koperasi tidak perlu bekerja sendirian dan hanya bergantung pada konsumen di sekitar gerainya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.