Harga barang-barang inti tersebut ditargetkan rata-rata sekitar 30 persen lebih murah dibandingkan harga pasar yang menjadi acuan. Pemerintah memperkirakan total tagihan belanja keluarga dapat berkurang sekitar 15 persen. Penghematannya diproyeksikan mencapai rata-rata 90 dolar AS setiap bulan atau sekitar 1.000 dolar AS dalam setahun.
Harga yang lebih rendah itu tidak muncul karena pedagang atau pemasok dipaksa menanggung kerugian sendiri. Pemerintah Kota New York ikut mengurangi biaya dengan menyediakan lokasi, menanggung sewa dan pajak properti, serta membiayai pembangunan awal. Anggaran modal sekitar 70 juta dolar AS disiapkan untuk membangun dan menyiapkan lima toko tersebut.
Sementara itu, kegiatan sehari-hari tetap akan diserahkan kepada operator ritel berpengalaman. Pengelola akan mengurus pemasok, stok barang, tenaga kerja, keamanan pangan, dan pelayanan pembeli. Pemerintah menyediakan aset dan dukungan biaya, sekaligus menentukan standar harga dan tujuan sosial yang harus dicapai.
Model itu menunjukkan bahwa supermarket dipakai sebagai alat kebijakan, bukan sekadar usaha dagang milik pemerintah. Ukuran keberhasilannya bukan hanya omzet, jumlah transaksi, atau banyaknya produk yang terjual. Ukurannya adalah seberapa jauh kehadiran toko dapat membuat makanan bergizi lebih mudah dijangkau dan pengeluaran warga benar-benar turun.
New York juga tidak menjadikan produk kemasan sebagai pusat programnya. Barang pabrikan tetap dapat tersedia, tetapi perhatian utama diberikan kepada pangan segar dan kebutuhan pokok yang langsung mempengaruhi biaya makan keluarga. Pemerintah kota tampaknya memahami bahwa murahnya makanan tidak cukup diukur dari harga mi instan atau makanan ringan, tetapi dari kemampuan warga membeli telur, sayuran, buah, daging, ikan, dan susu.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.