JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Jutaan warga penerima bantuan sosial mungkin akan segera merasakan perubahan besar. Pemerintah memastikan sistem penyaluran bansos akan berubah drastis mulai awal 2027, bukan lagi mengandalkan data lama yang bertahun-tahun menjadi sumber keluhan, melainkan basis data baru hasil kerja kecerdasan buatan yang memadukan informasi dari puluhan lembaga negara sekaligus.

Pengumuman ini datang dari Ketua Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah, Luhut Binsar Panjaitan. Ia menyebut bahwa integrasi data lintas kementerian dan lembaga sedang dalam proses, dengan target rampung pada akhir 2026. Bila proses berjalan lancar, skema penyaluran berbasis data baru itu bisa mulai dijalankan pada kuartal pertama 2027.

Yang menjadi tulang punggung sistem baru ini adalah teknologi AI yang dikembangkan oleh anak bangsa sendiri. Bukan sekadar klaim, Luhut menyebut teknologi tersebut bahkan sudah mendapat apresiasi dari komunitas internasional—sebuah pencapaian yang, menurut pemerintah, membuktikan bahwa Indonesia tak lagi sekadar konsumen teknologi global.

Data yang dipadukan mencakup berbagai sumber yang selama ini berdiri sendiri-sendiri. Ada data kependudukan dari Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, data kepemilikan lahan dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang, hingga data kepemilikan kendaraan bermotor dari Kepolisian Nasional. Kementerian Desa, Kemenko PMK, Kementerian Agama, dan sejumlah lembaga lain turut menyumbangkan datanya ke dalam sistem integrasi ini.

Logikanya sederhana namun selama ini sulit dijalankan: seseorang yang terdaftar sebagai penerima bansos, tetapi ternyata memiliki tanah luas atau kendaraan mewah, seharusnya tidak lagi lolos dari saringan. Dengan data yang kini saling terhubung, AI bisa mendeteksi ketimpangan seperti itu secara otomatis, jauh lebih cepat dan lebih akurat dibanding verifikasi manual yang selama ini memakan waktu dan sering bocor di tengah jalan.



Follow Widget