JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Musim kering belum juga mereda, tapi pemerintah mengklaim sudah bergerak. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman turun bicara soal El Niño dan nasib padi nasional — lengkap dengan janji pompa dan semangat pantang menyerah. Pertanyaannya: cukupkah itu?

Di tengah ancaman El Niño yang mulai menggigit lahan-lahan pertanian, Kementerian Pertanian mengumumkan langkah mitigasi yang mereka sebut “penguatan pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi.” Terdengar teknis dan meyakinkan — sampai kita tanya, sudah berapa pompa yang benar-benar terpasang?

Menteri Amran menegaskan bahwa negara tidak akan membiarkan petani berjuang sendirian. “Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah,” ujarnya, Minggu, 4 Oktober 2026. Kalimat yang heroik, tentu saja. Tapi di ladang yang mulai retak kehausan, heroisme tanpa air tetap saja tidak mengairi sawah.

El Niño bukan tamu baru di Indonesia. Fenomena iklim yang memicu kekeringan panjang ini sudah berulang kali datang, sudah berulang kali menekan produksi pangan nasional, dan sudah berulang kali disambut dengan pernyataan darurat dari para pejabat. Yang berbeda kali ini? Kata Amran, pemerintah sudah menyiapkan “berbagai langkah mitigasi.” Frasa yang, jika diterjemahkan secara satire, bisa berarti: kami sudah rapat cukup banyak.

Pompanisasi sebagai solusi utama sebenarnya bukan ide baru. Sudah bertahun-tahun pendekatan ini disebut sebagai jawaban atas krisis air pertanian. Tapi efektivitasnya sangat bergantung pada satu hal yang tidak cukup diselesaikan dengan pernyataan pers: distribusi yang tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat lokasi.



Follow Widget