BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Ratusan pemuda terbaik Jawa Barat resmi dikukuhkan sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat provinsi pada Jumat, 14 Agustus 2026. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi—yang akrab disapa KDM—memimpin langsung upacara pengukuhan itu dan menyematkan lencana secara simbolis kepada para anggota pasukan. Momen ini bukan sekadar seremonial; di balik kekhidmatannya, ada pesan mendalam yang KDM sampaikan dengan penuh penghayatan.

Di hadapan barisan pemuda pilihan Jawa Barat, KDM membuka pidatonya dengan ajakan untuk menyatukan pikiran, perasaan, dan raga dalam satu kesatuan. Ia menyebutnya sebagai penguatan diri—sebuah fondasi yang dalam dunia pendidikan dikenal sebagai kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

KDM mengingatkan bahwa Indonesia bukan sekadar kumpulan pulau yang dipisahkan lautan, pegunungan, dan hutan belantara. Yang menyatukan semuanya, tegasnya, adalah ideologi Pancasila—sebuah komitmen hidup bersama yang menempatkan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sebagai satu napas.

Pancasila, menurut KDM, bukan simbol belaka. Ia adalah ruh dari tujuan bangsa: mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pesan ini ia sampaikan bukan dengan nada ceramah, melainkan dengan tutur yang mengalir dan terasa dekat.

Bagian yang paling menyentuh dari pidato KDM adalah ketika ia berbicara tentang makna merah putih itu sendiri. Warna merah, katanya, adalah simbol darah yang menyatu—satu darah, satu tekad, yang lebih baik tertumpah daripada hidup dalam kehinaan. Sedangkan putih adalah lambang jiwa yang bersih, jiwa yang tak punya beban jabatan, tak punya beban kekuasaan, tak punya beban harta.

“Dalam diri saya hanya ada satu: kehormatan,” ucap KDM, menggambarkan filosofi yang ia harapkan tertanam dalam diri setiap anggota Paskibraka. Kehormatan itu, lanjutnya, lahir dari jiwa yang putih—jiwa yang tak berharap apa pun selain kemuliaan dan masa depan bangsanya.

KDM juga menelusuri perjalanan panjang bangsa ini secara kronologis. Ia menyebut para leluhur yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sunda, Jawa, Palembang, Makassar, hingga ujung Nusa Tenggara Timur dan Papua sebagai pihak yang pertama berhak atas penghargaan dari bangsa ini. Merekalah yang meletakkan kerangka peradaban pertama di Nusantara.

Setelah itu, kata KDM, muncul generasi perumus sumpah pemuda, para bapak pendiri bangsa, kemudian para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan dengan darah dan air mata. Hingga akhirnya, estafet kepemimpinan berpindah dari Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Prabowo Subianto. Semua adalah bagian dari rantai panjang yang kini tongkatnya ada di tangan generasi muda.

Di sinilah KDM menatap langsung para Paskibraka yang berdiri di hadapannya. Ia sadar bahwa mengumpulkan pemuda yang bersedia menjalani seleksi Paskibraka kian hari kian sulit. Di era ketika generasi muda lebih akrab dengan layar gawai, kedai kopi, dan tren penampilan fisik, memilih untuk berlatih di bawah terik matahari, memotong rambut bergaya militer, dan meninggalkan kenyamanan rumah adalah pilihan yang tidak mudah.

KDM mengakui tantangan itu dengan jujur. Ia menyebut bahwa dahulu, sekadar terpilih mewakili kabupaten sudah menjadi kebanggaan luar biasa. Terpilih di tingkat provinsi adalah kemuliaan. Kini, antusiasme itu harus terus dipupuk agar tidak padam.

Rasa hormatnya kepada para Paskibraka ia wujudkan bukan hanya lewat kata-kata. KDM secara tegas memerintahkan agar kebutuhan para anggota pasukan dipenuhi dengan layak—mulai dari sepatu yang pantas hingga seragam yang rapi. Ia bahkan menyatakan siap menanggung sendiri bila ada kekurangan anggaran.

Sebagai bentuk penghargaan konkret, KDM mengumumkan bonus istimewa: selama empat hari empat malam menjelang dan setelah bertugas, para Paskibraka akan menginap di hotel bintang lima. Bukan soal kemewahan hotelnya, tegas KDM, melainkan soal rasa hormat yang ingin ia tunjukkan kepada mereka yang telah memilih jalan pengabdian di usia muda.

“Bukan soal hotelnya, tapi soal perasaan dihargai,” ujar KDM, disambut suasana haru di antara para peserta dan tamu undangan.

Upacara pengukuhan ini turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi, di antaranya Kepala Gartap II Bandung Marsekal Pertama TNI Salihin, Asisten Presiden Kodam 3 Siliwangi Kolonel Infanteri Novi Laksana Arianto, serta jajaran Direktorat Sabhara Polda Jawa Barat. Hadir pula Koordinator Kejaksaan Tinggi Jawa Barat dan Kepala Bank Jabar, serta Majelis Pertimbangan dan Pengurus Eksekutif Purna Paskibraka Indonesia Provinsi Jawa Barat.

Usai pengukuhan, KDM menyampaikan pesan penutup yang menggugah. Ia meminta para Paskibraka untuk mengangkat “gong di langit”—sebuah metafora tentang semangat yang harus terus membumbung tinggi meski langit diselimuti awan biru. Jangan pernah menyerah, pesannya, karena Tuhan dan semesta akan selalu bersama mereka yang berjuang dengan tulus.

Keesokan harinya, para Paskibraka Jawa Barat akan menjalankan tugas utama mereka: mengibarkan bendera Merah Putih dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81, 17 Agustus 2026. Sebuah momen yang bagi KDM, jauh melampaui seremoni belaka—ia adalah simbol bahwa pemimpin bangsa harus mampu mengangkat kehormatan negeri hingga semua orang memberikan penghormatan.

FAQ

Apa yang dimaksud KDM dengan “Merah Putih bukan sekadar bendera”?
KDM menjelaskan bahwa warna merah melambangkan satu darah dan keberanian, sementara putih melambangkan jiwa yang bersih tanpa pamrih jabatan atau kekuasaan. Bagi KDM, Merah Putih adalah jiwa dan ruh pengabdian kepada bangsa.

Apa hadiah yang diberikan KDM kepada Paskibraka Jawa Barat 2026?
Sebagai bentuk penghargaan, KDM memberikan kesempatan bagi para Paskibraka untuk menginap di hotel bintang lima selama empat hari empat malam, sebagai simbol rasa hormat terhadap pengorbanan dan dedikasi mereka.

Kapan dan di mana pengukuhan Paskibraka Jawa Barat 2026 dilaksanakan?
Pengukuhan dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2026, dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam upacara resmi tingkat provinsi.



Follow Widget