BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tidak gentar menghadapi gelombang kritik atas kebijakannya menggelar sayembara penangkapan begal. Di hadapan jajaran kepolisian dan para pemangku kepentingan, ia menegaskan bahwa perang kejahatan jalanan bukan sekadar soal senjata dan penangkapan — ini adalah perang psikologi yang harus dimenangkan di benak masyarakat.
Pernyataan itu bukan retorika kosong. Dedi membangun argumennya dari kisah nyata: seorang warga Kabupaten Subang yang baru selesai salat Tahajud, kemudian keluar dini hari untuk membeli kambing dari desa tetangga. Di tengah perjalanan, ia menjadi korban begal. Kepala tanpa helm itu dihantam benda keras, dan nyawanya tidak terselamatkan.
“Kalau dia pakai helm, mungkin masih bisa selamat,” kata Dedi. Ia mengingatkan bahwa banyak warga memakai helm hanya karena takut polisi, bukan demi keselamatan diri. Dari kasus inilah ia menarik pelajaran ganda: soal kewaspadaan masyarakat dan soal pentingnya kesadaran keselamatan berlalu lintas.
Peristiwa itu juga memperlihatkan ironi yang menyedihkan. Ketika korban tersungkur dan merintih kesakitan, kendaraan lain — motor, truk tebu — berlalu begitu saja tanpa berhenti. Dedi menyebut ini sebagai cerminan dari psikologi massa yang telah dikuasai ketakutan. Jika seratus begal bisa mengendalikan pikiran seratus ribu orang, maka persoalannya bukan lagi soal jumlah pelaku, melainkan soal siapa yang menguasai narasi.
“Di balik satu orang, harus bisa dikendalikan pikiran seribu orang,” tegasnya. Inilah yang ia sebut sebagai perang asimetris — di mana kekuatan sesungguhnya bukan terletak pada persenjataan, melainkan pada psikologi publik.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.