Sementara itu, kasus serupa yang terjadi di Batang, Jawa Tengah, menunjukkan skala permasalahan yang lebih besar. Hingga Kamis, 24 September 2026 pukul 03.00 WIB, tercatat 219 orang mengalami gangguan kesehatan akibat mengonsumsi makanan dari program MBG di wilayah tersebut.
BGN pun mengambil tindakan yang identik terhadap dapur MBG di Batang. Keputusan pencopotan dan penghentian operasional diambil setelah ditemukan indikasi pelanggaran terhadap standar operasional prosedur yang berlaku di SPPG Batang Bawang.
Salah satu temuan awal yang mencuat adalah soal waktu pengolahan telur. Berdasarkan pemeriksaan awal, telur dimasak sejak pukul 19.30 WIB, kemudian dipanaskan kembali pada pukul 02.30 WIB. Rentang waktu yang panjang antara pengolahan awal dan pemanasan ulang ini dinilai berpotensi menjadi celah masuknya kontaminasi bakteri.
“Berdasarkan pemeriksaan awal, ditemukan adanya sejumlah ketidakpatuhan terhadap SOP termasuk waktu pengolahan telur,” kata Ketut.
Selain persoalan waktu pengolahan, BGN juga menemukan sejumlah masalah kebersihan di beberapa bagian SPPG Batang Bawang yang dinilai perlu mendapat perhatian serius. Kendati demikian, Ketut menegaskan bahwa temuan ini masih dalam proses investigasi dan belum bisa dijadikan penentu tunggal penyebab gangguan kesehatan yang terjadi.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.