Kasus ini bermula pada 24 September 2026, ketika sedikitnya 105 murid dan 8 guru SMAN 1 Rembang mengalami diare dan mual. Menu yang dikonsumsi saat itu terdiri dari nasi, bakwan jagung, dan pentol bumbu Bali—sajian yang tampak biasa namun berujung pada insiden kesehatan yang mengkhawatirkan.
Hingga kini, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para korban belum keluar. BGN menyatakan proses pengujian masih dilakukan bersama dinas kesehatan setempat, sehingga penyebab pasti keracunan belum bisa ditentukan.
“Hasil laboratorium belum keluar,” ujar Ketut, seraya menegaskan bahwa BGN tidak ingin tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan sebelum seluruh data tersedia.
Di tengah proses investigasi, BGN menegaskan fokus utama saat ini adalah memastikan pemulihan seluruh korban yang terdampak. Lembaga ini berkomitmen mengawal kondisi kesehatan para penyintas hingga dinyatakan benar-benar pulih dan dapat kembali ke rumah masing-masing.
“Kami tetap mengawal pemulihan dan kesehatan, sampai dinyatakan sehat dan pulang ke rumah,” tegas Ketut.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.