BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berdiri di hadapan ribuan warga dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, lalu mengucapkan kata-kata yang jarang terdengar dari seorang pejabat tinggi: permintaan maaf. Bukan basa-basi seremonial, melainkan pengakuan terbuka bahwa setelah 81 tahun merdeka, Jawa Barat belum mampu membebaskan seluruh rakyatnya dari belenggu kemiskinan dan keterbatasan.

Upacara itu digelar untuk pertama kalinya di halaman Gedung Sate, Bandung, bukan di Lapangan Gasibu seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun yang lebih mencolok bukan lokasi barunya, melainkan siapa yang duduk di kursi VIP: petani, nelayan, ojek online, dan buruh bangunan. Para pejabat dan tamu kehormatan justru ditempatkan di luar tenda VIP, sebuah simbolisme yang disengaja oleh KDM—sapaan akrab Kang Dedi Mulyadi.

“Kami memohon maaf. 81 tahun Indonesia merdeka, kami belum mampu memerdekakan seluruh rakyat Jawa Barat,” ucap Dedi dalam pidatonya, kalimat yang langsung memukau sekaligus menampar nurani para hadirin.

Dedi mengungkapkan fakta yang selama ini tersembunyi di balik gemerlap pembangunan: masih ada 80.000 warga Jawa Barat yang hingga kini belum menikmati listrik. Mereka hidup dalam kegelapan setiap malam, padahal Jawa Barat adalah provinsi penghasil energi besar—dengan PLTA Jatiluhur, Jatigung, Cirata, Saguling, hingga panas bumi di berbagai pegunungan yang memasok listrik ke berbagai wilayah Indonesia.

Ironi itu terasa menohok: provinsi yang menerangi Indonesia, tapi gagal menerangi sebagian warganya sendiri. Dedi menyebut, saat ia dilantik pada 2025, jumlah warga tanpa listrik bahkan mencapai lebih dari 500.000 orang. Angka itu kini sudah berhasil ditekan, dan ia berkomitmen menuntaskan sisanya pada 2027.



Follow Widget