Dedi juga menyinggung soal pendidikan. Rata-rata lama sekolah warga Jawa Barat saat ini baru delapan tahun—di bawah standar wajib belajar 12 tahun. Ia menyebut ini sebagai pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama, karena pendidikan adalah fondasi dari segala kemajuan.
Dalam pidatonya yang panjang dan sarat makna itu, Dedi juga berbicara tentang pertanian organik sebagai solusi jangka panjang. Ia mengingatkan bahwa negara-negara maju yang dulu mendorong Indonesia menggunakan pestisida dan pupuk kimia, kini justru menolak produk pertanian yang mengandung residu kimia. Petani Jawa Barat, kata dia, harus bergerak menuju pertanian organik bukan sekadar demi pasar ekspor, melainkan demi kesehatan warganya sendiri.
“Dokter yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Dan makanan yang kita tanam dengan cinta adalah terbaik,” kata Dedi, memadukan filosofi Sunda dengan visi pertanian modern.
Bahaya narkoba jenis tramadol juga menjadi sorotan dalam pidatonya. Dedi menyebut ribuan warga, khususnya generasi muda, telah jatuh ke dalam lingkaran kriminalitas akibat peredaran tramadol yang bebas di pelosok desa. Ia menyebutnya sebagai bentuk penjajahan gaya baru—penjajahan yang tak kasat mata, yang merusak pikiran dan menghancurkan masa depan tanpa kekerasan fisik.
“Di sudut-sudut desa, tramadol dijual bebas. Inilah kolonialisme modern yang harus kita lawan bersama,” tegasnya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.