Namun menurutnya, hal itu bukan patokan utama dalam membangun tim kerja yang solid. Ia mencontohkan kisah Lionel yang memeluk rekan setimnya yang baru bergabung, bukan memarahinya, hingga rekan tersebut mengabdikan diri penuh kepada sang kapten.

“Orang itu disatukan oleh energi, bukan oleh genetik,” begitu inti pesan yang ia sampaikan, menjelaskan bahwa ikatan emosional dan kesamaan visi jauh lebih penting ketimbang asal suku. Ia bahkan menyinggung hubungannya dengan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen yang hadir di forum tersebut, yang menurutnya punya kedekatan nilai meski tak pernah saling bersilaturahmi ke kampung halaman masing-masing.

Dedi menegaskan bahwa konflik paling dahsyat justru kerap terjadi antarsesama, baik dalam keluarga maupun antarnegara serumpun, bukan dengan pihak yang jauh secara kultural. Karena itu, ia menilai sekat Jawa-Sunda tidak relevan dalam membangun birokrasi yang solid, sebab yang dibutuhkan adalah kesatuan visi dan misi, bukan kesamaan identitas etnis.

Soal budaya kerja seremonial yang disorot salah satu penanya, Dedi Mulyadi punya jawaban konkret. Ia mengusulkan agar upacara bulanan IPDN tidak lagi digelar di dalam kampus, melainkan di lingkungan sekitar yang justru membutuhkan perhatian, seperti jalan rusak dan saluran air kotor di kawasan Tanjungsari, Sumedang.

Gagasannya menyentuh konsep wilayah aglomerasi pendidikan yang dipimpin bergilir oleh kampus-kampus di sekitarnya, mulai dari Institut Teknologi Bandung, IPDN, hingga Universitas Winaya Mukti. Para taruna, menurutnya, semestinya turun langsung menjadi pendamping RT dan RW setempat, bukan sekadar menjalani rutinitas hormat bendera di dalam kampus.



Follow Widget