Perjalanan panjang ini juga menjadi refleksi atas ketahanan fiskal Indonesia. Dari jurang krisis 1998 yang mengguncang sendi-sendi perekonomian, hingga kemampuan melunasi utang warisan tersebut lebih dari dua dekade kemudian, Indonesia telah menempuh jalan yang tidak mudah.

Tentu saja, pelunasan ini tidak berarti Indonesia bebas dari seluruh beban utang. Seperti negara-negara lain, Indonesia masih memiliki berbagai kewajiban utang luar negeri maupun dalam negeri yang terus dikelola. Namun, khusus untuk warisan krisis 1997–1998, lembaran itu kini resmi ditutup.

Bagi generasi yang lahir setelah krisis, mungkin sulit membayangkan betapa besar guncangan yang terjadi di tahun-tahun itu. Harga kebutuhan pokok melonjak, pengangguran meledak, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan nasional anjlok ke titik terendah. Utang yang kini lunas itu adalah bagian dari harga yang harus dibayar untuk membangun kembali fondasi perekonomian yang runtuh.

Kini, hampir 28 tahun setelah krisis meluluhlantakkan ekonomi Indonesia, pemerintah bisa mengatakan satu hal dengan pasti: tagihan itu sudah lunas. Sebuah pencapaian yang tidak spektakuler di permukaan, tapi bermakna dalam bagi perjalanan fiskal bangsa.



Follow Widget