Wartawan profesional terikat kode etik — berita harus berimbang, sumber harus jelas, wawancara harus dilakukan, pertanyaan harus menyentuh kepentingan publik. Tapi wartawan “stensilan” tidak perlu semua itu. Cukup tulis sesuatu yang membuat pejabat takut, dan amplop pun keluar.
Gelombang berikutnya lebih besar lagi: era digital. Munculnya Twitter, Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube mengubah segalanya. Bukan sekadar menggerus media cetak, tapi juga mengancam media online dan televisi. Kini, setiap orang punya “stasiun TV”-nya sendiri di genggaman.
Dedi menyebut munculnya kelompok baru yang ia sebut “buzzer” — para pengguna media sosial yang digerakkan kepentingan politik untuk membentuk opini publik. Narasi yang dibangun bukan fakta objektif, melainkan manipulasi opini.
Namun di tengah kebisingan itu, Dedi justru optimistis. Ia menganalogikan kebutuhan akan media independen seperti kebutuhan manusia akan air jernih dan udara bersih. “Setiap Jumat dan Sabtu, Ciwidey selalu penuh. Ciater selalu penuh. Orang mencari tempat yang jernih karena batin mereka lelah dengan kepalsuan,” katanya.
Itulah mengapa, kata Dedi, jurnalis objektif dan media yang independen tetap akan dicari. Tapi ia tidak menutup mata terhadap tantangan nyata: biaya produksi media terus membengkak, pendapatan iklan terus turun karena tersedot platform digital. Media akhirnya terpaksa bergantung pada birokrat dan politisi — dan di sinilah independensi diuji.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.