Di balik ketegasan itu, ada visi yang lebih besar yang ingin ia capai melalui proyek TPPAS Legok Nangka. Dedi berharap fasilitas ini kelak mampu menghasilkan energi dari pengolahan sampah — dan energi itu bisa digunakan untuk menerangi rumah-rumah warga yang selama ini belum terjangkau listrik.

Saat ini, masih ada sekitar 70 ribu keluarga di Jawa Barat yang belum menikmati aliran listrik. Angka itu sebenarnya sudah turun drastis dari 500 ribu keluarga sebelumnya — sebuah capaian yang tidak kecil. Namun bagi Dedi, pekerjaan belum selesai selama masih ada satu pun warga Jabar yang hidup dalam kegelapan.

“Jawa Barat menargetkan tahun depan seluruh rakyat Jawa Barat sudah punya listrik. Dari 500 ribu yang tidak punya listrik, sekarang tinggal 70 ribu lagi. Tahun depan kelar,” ucap Dedi optimistis.

Target itu ia pasang untuk 2027 — tahun di mana ia berharap Jawa Barat bisa mengklaim diri sebagai provinsi dengan akses listrik universal. TPPAS Legok Nangka adalah salah satu kunci untuk mewujudkan ambisi itu, dan itulah sebabnya proyek ini harus dijaga dari segala gangguan, termasuk dari tangan-tangan yang hanya ingin mengambil manfaat tanpa memberi kontribusi apapun.

Langkah Dedi Mulyadi ini mencerminkan pendekatan pemerintahan yang semakin tidak sabar menghadapi praktik-praktik lama yang menghambat pembangunan. Di banyak daerah, proyek infrastruktur kerap menjadi ladang bagi kelompok-kelompok yang mengklaim “hak” atas nama keamanan wilayah, padahal ujung-ujungnya adalah pemerasan terselubung.



Follow Widget