Proyek TPPAS Legok Nangka bukan proyek sembarangan. Fasilitas pengolahan sampah skala besar ini dirancang untuk mengatasi krisis persampahan Jawa Barat yang sudah lama menjadi beban. Dengan kapasitas yang jauh lebih besar dari TPA konvensional, proyek ini diharapkan menjadi tulang punggung pengelolaan sampah regional. Gangguan sekecil apapun pada rantai operasionalnya bisa berdampak luas bagi jutaan warga.
Itulah mengapa Dedi tak mau kompromi. Penjagaan 24 jam oleh personel Polda dan Kodam bukan hanya soal keamanan fisik, melainkan sinyal keras bahwa era preman menguasai proyek pemerintah di Jawa Barat harus berakhir. Tak ada toleransi untuk praktik memeras yang selama ini dianggap lumrah.
Lebih jauh, Dedi menegaskan bahwa sikapnya ini adalah bagian dari perang terbuka premanisme secara keseluruhan. Menurutnya, membiarkan orang mendapat uang tanpa bekerja adalah preseden buruk yang merusak tatanan sosial dan moral masyarakat.
“Saya menyatakan perang terhadap premanisme. Kenapa? Premanisme, kita membiarkan orang mendapatkan uang tanpa bekerja, ini akan melahirkan sebuah preseden buruk,” ujarnya dengan nada tegas.
Filosofi Dedi sederhana namun tajam: setiap rupiah harus diperoleh dari kerja yang sah dan jujur. Negara tidak boleh menjadi tempat yang nyaman bagi mereka yang hidup dari menakut-nakuti dan memeras sesama.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.