BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tak tinggal diam saat sayembaranya menuai kritik. Ia membalas dengan argumen yang tajam: selama ini, negara lebih sibuk melindungi hak pelaku kejahatan, sementara korban dibiarkan berjuang sendiri.
Kebijakan sayembara berhadiah yang digagas Dedi Mulyadi untuk menangkap begal menuai kritik dari dua menteri Kabinet Merah Putih — Menteri HAM Natalius Pigai dan Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra. Keduanya khawatir program itu bisa memicu tindakan main hakim sendiri di masyarakat.
Namun Dedi tidak mundur. Ia justru membalik argumen itu dengan mempertanyakan: di mana perhatian negara selama ini untuk korban kejahatan?
“Orang yang menjadi korban kejahatan juga mengalami pelanggaran hak asasi. Mereka kehilangan keamanan, perlindungan negara, harta benda, bahkan banyak yang kehilangan nyawa,” ujar Dedi. Pernyataan itu disampaikan sebagai respons langsung atas kritik yang dilayangkan Pigai.
Dalam video pernyataannya, Dedi bahkan menyinggung hal yang kerap luput dari perhatian publik: korban kejahatan yang dilarikan ke rumah sakit tidak bisa mengklaim biaya perawatan melalui BPJS. Sementara itu, pelaku kejahatan yang terluka — baik karena dihajar massa maupun akibat lain — justru kerap mendapat pertolongan dari pihak berwenang, termasuk dalam soal pembiayaan rumah sakit.




















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.