Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional pada 2025 menyentuh angka 34,69 juta ton—jauh melampaui konsumsi domestik yang berkisar 30 hingga 31 juta ton per tahun. Artinya, Indonesia membukukan surplus sekitar 4 juta ton beras sepanjang tahun lalu.
Tren positif itu berlanjut di 2026. Produksi beras diperkirakan kembali meningkat, mendorong stok nasional ke angka 5,2 juta ton. Dengan cadangan sebesar itu, ketersediaan beras dalam negeri dipastikan aman hingga Mei 2027.
Amran bahkan menyebut angka surplus kumulatif dua tahun terakhir mencapai 8 juta ton, sementara kapasitas gudang nasional hanya mampu menampung 3 juta ton. Kondisi inilah yang mendorong pemerintah membuka jalur ekspor sebagai solusi logis atas kelebihan produksi tersebut.
“Produksi 2026 dengan 2025 itu surplus 8 juta ton. Sedangkan kapasitas gudang kita hanya 3 juta ton. Oleh karena itu, dulu kita pernah ekspor ke Palestina, ke Mesir, nah sekarang kita ekspor ke Malaysia,” kata Amran.
Sebelum Malaysia, Indonesia memang pernah mengirimkan beras ke Palestina dan Mesir dalam skema kemanusiaan. Namun ekspor ke Malaysia kali ini hadir dalam format kerja sama komersial jangka panjang—sebuah perbedaan yang signifikan secara strategis.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.