MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Di antara deretan botol berlabel biru di rak minimarket, satu warna menyolok langsung mencuri perhatian: oranye terang. Itulah Cleo. Tapi di balik pilihan warna yang kontroversial itu, tersimpan kisah bisnis yang jauh lebih menarik dari sekadar strategi visual.
Siapa sangka bahwa produsen air minum yang kini memiliki jaringan pabrik terbanyak di Indonesia pernah memulai segalanya dari sebuah pabrik kecil di Pandaan, Jawa Timur, yang nyaris kolaps. Inilah cerita tentang keberanian membaca peluang di tempat yang orang lain enggan melirik.
Tahun 2003 menjadi titik awal perjalanan luar biasa ini. Saat itu, PT Sariguna Primatirta adalah entitas kecil yang kondisi keuangannya memprihatinkan. Operasional berjalan lamban, pasar sangat terbatas, dan masa depan perusahaan nyaris tidak terlihat. Singkatnya, pabrik ini sedang sekarat.
Di titik itulah pengusaha Hermanto Tanoko mengambil keputusan yang membuat banyak kalangan menggelengkan kepala. Ia memilih mengakuisisi pabrik yang hampir tutup itu, justru di industri yang sudah sesak dengan besar.
Logikanya sederhana namun tajam. Hermanto memahami satu kebenaran mendasar: air minum adalah kebutuhan abadi. Selama manusia hidup, permintaan terhadap air bersih tidak akan pernah padam. Pasar air minum dalam kemasan terus seiring ledakan populasi dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.