JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Indonesia berancang-ancang memutus ketergantungan pada impor bensin. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah merancang program ambisius: mengembangkan bahan bakar bensin dengan campuran etanol hingga 50 persen, atau yang dikenal sebagai E50. Ini bukan sekadar wacana — peta jalannya sudah mulai disusun.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan gagasan E50 lahir dari diskusi panjang dalam forum Dewan Energi Nasional (DEN). Inspirasinya datang dari keberhasilan program Biodiesel 50 persen (B50) yang terbukti mampu menekan impor solar secara signifikan. Logikanya sederhana: jika B50 berhasil untuk solar, mengapa hal serupa tidak bisa diterapkan pada bensin?
“Berangkat dari keberhasilan itu dan kita pertama kali di dunia,” ujar Bahlil saat ditemui di Balai Sudirman, Jakarta, Senin, 21 September 2026. Ia menambahkan bahwa negara-negara seperti Brasil bahkan telah menerapkan E100, sementara sejumlah negara bagian di Amerika Serikat pun sudah lebih dulu melangkah ke level yang sama.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Brasil dikenal sebagai pelopor bahan bakar berbasis etanol tebu sejak dekade 1970-an. Kini, hampir seluruh kendaraan di sana mampu beroperasi dengan bahan bakar campuran etanol tinggi. Indonesia melihat pengalaman tersebut sebagai referensi serius, bukan sekadar inspirasi retorika.
Kementerian ESDM bersama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) kini tengah menyusun roadmap atau peta jalan implementasi bertahap. Pemerintah merancang transisi yang tidak terburu-buru namun terstruktur. Dimulai dari E10 pada 2027, kemudian meningkat ke E20 pada 2028, hingga akhirnya mencapai target E50 dalam beberapa tahun ke depan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.